Novel Hidden Reality Of Live Karya M. Anwar Ramdhani Beli Buku !

Cerpen "Mereka yang Tertawa, Aku yang Terbenam"

#1: Ahmad Dan Sekolah

Pagi itu, SMA Taruna Bangsa tengah dipenuhi keriuhan yang khas. Ruang kelas 12 A 1 berada di lantai dua, persis menghadap ke lapangan utama sekolah. Dinding kelas yang berwarna krem sudah dipenuhi coretan spidol berwarna-warni yang menggambarkan nama- nama siswa. Bel masuk baru saja berbunyi, suasana kelas masih ramai oleh obrolan, tawa, dan langkah-langkah tergesa-gesa. 

Di pojok belakang kelas, Anwar dan Fikry sedang sibuk memainkan ponsel mereka. Fikry adalah sosok yang dikenal sebagai pemimpin kelompok. Badannya cukup besar dengan rambut hitam yang selalu terlihat rapi. Meski pandai bergaul, ia sering menunjukkan sikap arogan, terutama kepada mereka yang ia anggap lemah. Di sebelahnya, Anwar, teman setianya, tak kalah sama. Wajahnya terlihat membosankan, tetapi saat Fikry melontarkan lelucon, ia selalu tertawa paling keras.

"Eh, Ridho mana?" tanya Fikry sambil memainkan penutup pulpen di mejanya.

"Biasalah, telat. Anak itu memang nggak pernah disiplin," jawab Anwar, sambil mengetik sesuatu di ponselnya.

Tak lama kemudian, Ridho masuk dengan langkah tergesa-gesa. "Santai, Bro. Guru juga belum masuk," ujarnya sambil meletakkan tas di bangku kosong di sebelah mereka. Ridho adalah tipe anak yang selalu tampak cuek. Dengan postur tubuh yang tinggi dan wajah yang seringkali terlihat gelisah, ia lebih sering mengikuti apa yang dilakukan Anwar dan Fikry daripada memulai sesuatu sendiri.

Sementara itu, di meja paling depan, seorang siswa bernama Ahmad duduk sambil menunduk, sibuk mencatat sesuatu di bukunya. Ahmad adalah siswa yang pendiam, cenderung tak menyukai keramaian. Posturnya kecil, kacamata tebalnya sering melorot ke hidung, dan ia selalu berpakaian rapi. Ia adalah tipe siswa yang datang tepat waktu, duduk di tempatnya, dan pulang tanpa banyak bicara.

"Lihat itu, Ahmad lagi nulis. Anak rajin banget, ya?" ledek Anwar sambil menunjuk ke arah depan.

Fikry terkekeh. "Kayaknya setiap hari kerjaannya cuma itu. Bosen, nggak, ya?"

Ridho hanya tersenyum kecil, tapi tak menambahkan apa-apa. Ia biasanya hanya ikut tertawa tanpa benar-benar memikirkan apa yang terjadi.

Kehidupan Ahmad di kelas memang tak pernah menarik perhatian siapa pun, kecuali sebagai bahan canda. Ia sering menjadi target olokan karena sifatnya yang cenderung tertutup dan misterius. Meski begitu, Ahmad tak pernah membalas atau menunjukkan rasa terganggu. Ia hanya diam, membiarkan segalanya berlalu.

Ketika guru akhirnya masuk, suasana kelas pun mulai tenang. Ahmad terus mencatat dengan tekun, sementara Anwar dan Fikry sesekali saling berbisik. Ridho, seperti biasa, tampak lebih banyak melamun, sesekali menatap keluar jendela.

Jam pelajaran pertama berlangsung tanpa ada yang mencolok. Semua berjalan seperti biasanya.

Di kantin, Anwar, Fikry, dan Ridho duduk di meja yang sama. Mereka memesan pangsit dan es teh, sambil mengobrol soal rencana mereka untuk pertandingan badminton yang akan datang.

"Eh, ngomong-ngomong, Ahmad tuh ikut ekskul apa, sih?" tanya Fikry tiba-tiba. "Nggak tahu, deh. Kayaknya dia nggak ikut apa-apa. Hidupnya cuma belajar doang," jawab Anwar dengan nada mengejek.

Ridho menambahkan, "Ya wajar, lah. Orang kayak dia mana berani nongkrong atau ikut kegiatan."

Omongan itu terdengar, tapi di kepala mereka, Ahmad adalah seseorang yang berbeda. Ia bukan bagian dari kelompok mereka, dan itu seringkali menjadi alasan untuk menjadikannya target.

Kembali ke kelas, Ahmad kembali ke kebiasaannya, yaitu duduk diam di mejanya. Ia mengeluarkan bekal dari tasnya, roti lapis sederhana yang dibungkus dengan kertas aluminium. Di saat yang sama, Anwar dan kawan-kawannya masuk dengan suara gaduh.

"Eh, Ahmad, bekalnya apa tuh? Bagi dong!" seru Anwar dari kejauhan.

Ahmad menoleh sebentar, lalu kembali menunduk, pura-pura tak mendengar. Tapi Anwar tak menyerah. Ia mendekati meja Ahmad, diikuti oleh Fikry dan Ridho.

"Wah, roti lapis! Kayaknya enak, nih," kata Fikry sambil tertawa.

Ahmad hanya tersenyum kecil, berusaha menutupi rasa canggungnya. Ia tahu, tak ada gunanya melawan.

"Eh, lo sadar nggak sih? Dia kayak nggak pernah ngomong sama siapa pun," kata Anwar sambil menunjuk Ahmad yang masih sibuk mencatat.

"Iya, kayak robot, ya," sahut Fikry, membuat Ridho tertawa kecil.

Anwar, yang selalu punya ide iseng, mulai berpikir sesuatu. Ia berjalan mendekati meja Ahmad sambil membawa selembar kertas kosong. "Ahmad, bisa bantu gue nggak? Gue mau minta contekan PR Matematika," ujarnya dengan nada datar, tapi menyembunyikan senyum sinis.

Ahmad mendongak, menatap Anwar dengan wajah bingung. "Tapi... PR-nya kan harus dikerjakan sendiri," jawabnya pelan.

Anwar tertawa kecil, lalu menoleh ke Fikry dan Ridho. "Lihat, guys, dia masih percaya aturan itu!" katanya sambil mengembalikan kertas kosong ke meja Ahmad.

Ahmad tidak membalas. Ia hanya menunduk lagi, melanjutkan catatannya dengan raut wajah yang tetap datar. Namun, di dalam hati, ia mulai merasa tidak nyaman. Ahmad tahu bahwa ketiga temannya itu bukan hanya bercanda biasa. Ada sesuatu di balik cara mereka memperlakukannya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Sore itu, setelah jam pelajaran terakhir usai, Ahmad berjalan sendirian menuju halte bus di depan sekolah. Biasanya, ia selalu menunggu bus sambil membaca buku atau memainkan ponselnya. Namun, kali ini, ia merasa diawasi.

Benar saja, dari kejauhan, Anwar, Fikry, dan Ridho memperhatikan Ahmad sambil bercakap-cakap pelan. "Dia kayak anak kecil banget, ya. Pulang sekolah langsung ke halte. Kayak nggak ada kehidupan lain," ujar Fikry.

"Iya, makanya gue heran. Hidupnya monoton banget," balas Ridho.

"Eh, lo tahu nggak? Kadang, orang kayak gitu perlu sedikit "hiburan? biar hidupnya lebih seru," ucap Anwar dengan nada misterius.


#2: Kenapa Mereka Seperti Itu?

Keesokan harinya, Ahmad tiba di sekolah lebih awal seperti biasa. Langkah kakinya menuju kelas terasa ringan, meski hatinya mulai diliputi perasaan cemas yang ia sendiri tak pahami. Ketika ia membuka pintu kelas, suasana sepi menyambut. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan mengisi keheningan. Ahmad duduk di bangku depannya dan mulai mengeluarkan buku pelajaran.

Namun, saat ia meletakkan tasnya di meja, pandangannya langsung tertuju pada secarik kertas kecil yang terlipat rapi. Ahmad membuka kertas itu dengan ragu, dan matanya langsung tertuju pada tulisan besar di tengahnya: "Jangan sok pinter di sini."

Ahmad terdiam. Ia melirik sekeliling kelas, memastikan tidak ada siapa pun yang melihat reaksinya. Lalu, dengan cepat, ia meremas kertas itu dan menyelipkannya ke dalam tas. "Mungkin ini hanya iseng," gumamnya, mencoba menghibur diri.

Namun, kejadian kecil itu bukan satu-satunya hal yang terjadi. Sepanjang hari, Ahmad merasa ada sesuatu yang berbeda. Anwar, Fikry, dan Ridho lebih sering menatapnya dari bangku belakang. Tawa kecil mereka, meski terdengar biasa bagi siswa lain, terasa seperti ejekan di telinga Ahmad.

Puncaknya terjadi pada saat siang, setelah jam olahraga. Ahmad baru saja kembali ke kelas ketika ia mendapati tasnya terbuka. Buku-bukunya berantakan, dan ada tulisan besar di salah satu halamannya:

"Nggak usah rajin-rajin. Hidup nggak cuma soal belajar."

Ahmad terpaku. Ia merasa tubuhnya membeku, sementara pikirannya berputar-putar. Siapa yang melakukan ini? Kenapa mereka begitu membencinya?

Ketika ia memandang ke arah bangku belakang, Anwar, Fikry, dan Ridho sedang tertawa pelan sambil melirik ke arahnya. Ahmad tahu, mereka adalah pelakunya. Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Pembullyan kepada Ahmad mungkin terlihat kecil di mata orang lain. Tidak ada kekerasan fisik. Namun, bagi Ahmad, setiap ejekan, setiap tatapan, dan setiap tindakan mereka meninggalkan bekas. Ia mulai kehilangan kepercayaan diri, dan bayang-bayang untuk melawan ketiganya yang terasa mustahil.

Bagi Anwar, Fikry, dan Ridho, semuanya hanya lelucon. Mereka tidak pernah benar- benar memikirkan dampak dari apa yang mereka lakukan. Namun, bagi Ahmad, dunia mulai terasa semakin tak berarti.

Di balik tawa lepas dan aksi mereka, ada cerita yang tidak diketahui orang lain. Ketiganya-Anwar, Fikry, dan Ridho-memiliki alasan yang berbeda-beda yang mendorong mereka menjadi pembully.

Anwar adalah sosok yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Di kelas, ia dikenal sebagai siswa yang aktif berbicara, tetapi sering melewati batas. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang sering absen dari rumah karena pekerjaan, sementara ibunya sibuk dengan kegiatan sosial. Kehangatan keluarga yang ia dambakan jarang ia dapatkan, dan hal itu membuat Anwar mencari pengakuan di tempat lain-di sekolah.

Bagi Anwar, membully Ahmad adalah cara mudah untuk mendapatkan perhatian. Ahmad, dengan sifat pendiam dan prestasi akademik yang mencolok, menjadi target sempurna. Setiap kali Anwar melontarkan lelucon tentang Ahmad, tawa teman-temannya terasa seperti validasi atas keberadaannya. Ia tidak pernah benar-benar berpikir bahwa tindakannya menyakiti orang lain; baginya, itu hanya "hiburan."

Namun, di balik sikapnya yang percaya diri, Anwar menyimpan kekosongan. Kadang-kadang, ia menatap jauh keluar jendela kelas, memikirkan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang hadir untuknya. Tapi, rasa tidak nyaman itu selalu ia tutupi dengan humor-meski humor itu sering kali melukai orang lain.

Fikry adalah siswa yang selalu berada di bawah bayang-bayang harapan keluarganya. Ayahnya, seorang dosen di salah satu universitas swasta, dan ibunya, seorang dokter bedah, mengharuskan dirinya untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Setiap hari, Fikry harus mendengar ceramah tentang pentingnya menjadi siswa terbaik, memiliki prestasi, dan tidak boleh kalah dari orang lain.

Namun, Fikry merasa sulit memenuhi semua ekspektasi itu. Ia tidak pernah menjadi siswa dengan nilai tertinggi, dan ia tahu bahwa ia tidak secerdas Ahmad. Setiap kali Ahmad menerima penghargaan atau pujian dari guru, Fikry merasa kecil di mata dirinya sendiri.

Rasa iri itu perlahan berubah menjadi amarah yang ia salurkan dengan cara membully Ahmad. Dengan cara itu, ia merasa memiliki kendali, seolah-olah ia bisa "menjatuhkan" seseorang yang selalu lebih baik darinya. Fikry tahu bahwa apa yang ia lakukan salah, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi dirinya sendiri tanpa menyakiti orang lain.

Ridho, dari luar, terlihat seperti anak yang selalu santai dan mengikuti arus. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di rumah, ia sering merasa terabaikan. Ibunya telah bercerai sejak ia masih kecil, dan ia tinggal bersama neneknya disalah satu. Ridho jarang berinteraksi dengan keluarganya, dan ia sering menghabiskan waktu sendirian di kamar.

Ketika Anwar dan Fikry mulai menjadikan Ahmad sebagai target, Ridho ikut serta tanpa berpikir panjang. Baginya, bergabung dengan mereka adalah cara untuk merasa diterima. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan dampak tindakannya terhadap Ahmad, karena ia hanya ingin menjadi bagian dari kelompok.

Namun, di saat-saat tertentu, Ridho merasa bersalah. Ia sering teringat akan masa kecilnya ketika ia sendiri menjadi korban ejekan karena orang tuanya yang bercerai. Tetapi, ketakutan akan kehilangan tempat di kelompok membuatnya terus mengikuti arus, meskipun ia tahu bahwa apa yang mereka lakukan salah.

Anwar, Fikry, dan Ridho sebenarnya bukan orang jahat. Mereka adalah remaja yang mencoba menghadapi masalah mereka masing-masing, tetapi memilih cara yang salah untuk melakukannya. Ahmad menjadi sasaran mereka bukan karena ia bersalah, tetapi karena ia terlihat "berbeda."

Namun, apa yang mereka anggap sebagai lelucon atau candaan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih serius. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka menciptakan luka bagi Ahmad-luka yang mungkin tidak akan sembuh dengan mudah.


#3: Akhir Dari Mereka

Ahmad mulai berubah. Ia yang sebelumnya dikenal sebagai siswa teladan yang selalu datang lebih awal, kini sering datang terlambat. Ia yang biasanya aktif bertanya di kelas, kini lebih sering menunduk, menghindari tatapan guru maupun teman-temannya. Buku-buku yang selalu rapi di mejanya kini sering berantakan, seolah mencerminkan isi pikirannya yang kacau.

Setiap pagi, Ahmad merasa berat untuk melangkahkan kakinya ke sekolah. Di rumah, ia juga mulai menunjukkan sikap yang berbeda. Ibunya, sering memperhatikannya, melihat Ahmad semakin pendiam. "Ahmad, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya ibunya.

Ahmad hanya mengangguk tanpa menoleh, berusaha menyembunyikan perasaan sesungguhnya. "Iya, Bu. Cuma capek aja," jawabnya singkat.

Namun, di dalam hatinya, Ahmad merasa seolah-olah dunia menolaknya. Ia merasa tidak punya tempat untuk berlindung, baik di sekolah maupun di rumah. Rasa cemas dan takut yang terus menghantuinya mulai memengaruhi kesehariannya. Tidur malamnya terganggu, dan ia kehilangan nafsu makan.

Ditengah pelajaran Biologi, Ahmad tiba-tiba meminta izin keluar kelas. Wajahnya terlihat pucat, dan langkahnya telihat lesu. Guru yang mengajar sempat bertanya, tetapi Ahmad hanya menjawab bahwa ia tidak enak badan. Di toilet, Ahmad menatap bayangannya di cermin, mencoba menahan air mata yang sudah hampir tumpah. Ia merasa tidak sanggup lagi menghadapi semuanya.

Sesaat setelah Ahmad keluar, wali kelas mereka, Bu Ratna, masuk ke dalam kelas dengan wajah serius. Ia membawa secarik kertas yang ditemukan oleh seorang guru di tempat sampah, berisi coretan tulisan: "Nggak usah sekolah kalau cuma bisa jadi kutu buku!"

"Anak-anak, siapa yang menulis ini?" tanya Bu Ratna, nada suaranya tegas.

Kelas terdiam. Semua siswa saling berpandangan, mencoba mencari tahu siapa pelakunya. Anwar, Fikry, dan Ridho saling bertukar pandang. Mereka tidak pernah menyangka bahwa perbuatan mereka akan sampai ke tangan guru.

"Kalau tidak ada yang mengaku, Bu Ratna akan melaporkan ini ke kepala sekolah," lanjutnya.

Anwar merasa dadanya sesak. Ia tahu bahwa tulisan itu adalah bagian dari lelucon mereka. Fikry dan Ridho juga mulai merasa gelisah. Setelah beberapa menit, Anwar akhirnya mengangkat tangan. "Bu, saya yang menulis," ujarnya dengan suara pelan.

Fikry dan Ridho ikut mengaku, meski terlihat ragu. "Kami juga terlibat, Bu," tambah
Fikry.

Bu Ratna menatap ketiganya dengan kecewa. "Kalian sadar apa yang kalian lakukan
bisa melukai teman kalian? Ahmad adalah manusia, sama seperti kalian. Tidak ada yang berhak memperlakukan orang lain seperti ini."
Ketiganya hanya bisa menunduk. Mereka tidak bisa membantah ucapan Bu Ratna.

Anwar, Fikry, dan Ridho hanya bisa terdiam. Mereka merasa malu dengan diri mereka sendiri. Setelah mendengar cerita Ahmad, Anwar maju lebih dulu. "Ahmad, gue minta maaf. Gue nggak tahu kalau semua yang gue lakuin bikin lo sesakit ini."

Fikry dan Ridho ikut meminta maaf, dan Ahmad, meski masih ragu, menerima permintaan maaf mereka.

Sejak saat itu, perlakuan ketiganya terhadap Ahmad berubah. Mereka mulai berusaha mendekati Ahmad, bukan untuk mengejeknya, tapi untuk mencoba berteman. Anwar sesekali mengajak Ahmad berbicara, meski awalnya suasana terasa canggung. Fikry, yang dulu iri, mulai bertanya kepada Ahmad soal pelajaran, dan Ridho sesekali menawarkan camilannya saat istirahat.

Ahmad tidak langsung membuka dirinya sepenuhnya. Luka yang ia rasakan tidak hilang begitu saja. Namun, ia mulai merasakan bahwa dunia tidak sepenuhnya gelap. Ketika ketiganya benar-benar berubah, Ahmad akhirnya mulai percaya bahwa orang bisa belajar dari kesalahan mereka.

Bagi Anwar, Fikry, dan Ridho, pengalaman ini menjadi pelajaran penting. Mereka belajar bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, dapat membawa dampak besar pada orang lain. Mereka mulai menyadari, meski Ahmad terlihat kuat, juga memiliki perasaan yang bisa terluka.

Ahmad, di sisi lain, mulai kembali menemukan kepercayaan dirinya. Ia tidak lagi merasa sendirian, meski luka yang ia rasakan membutuhkan waktu untuk sembuh sepenuhnya. Namun, dengan perlakuan yang lebih baik dari teman-temannya, ia merasa bahwa ia akhirnya memiliki tempat di dunia ini.

"Saya nggak tahu kenapa kalian memperlakukan saya seperti itu," tulis Ahmad dalam buku hariannya. "Tapi saya cuma mau belajar dengan tenang. Saya nggak pernah ganggu kalian."

Cerpen ini merupakan tugas Bahasa Indonesia kelas XII pada tanggal 16 dan 23 Januari 2025 dengan tema "Bab 4: Menyampaikan Opini tentang Perundungan", disusun oleh Ahmad Fauzi, Muhammad Anwar Ramdhani, R. Mohammad Fikry Mushoffa, dan Ridho Muhammad Hafiz.

Getting Info...

About the Author

Seorang pelajar yang mencurahkan isi pikirannya dengan cara nulis di website

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Menggunakan Bahasa Yang Sopan (Bahasa Kasar, Spam, Iklan, Ataupun Tautan, Tidak Kami Izinkan)
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.